Hati Bubista campur aduk melihat perjuangan yang ditunjukkan anak buahnya, sejak babak penyisihan grup hingga pertempuran sengit melawan sang juara bertahan.
Ia menilai reaksi para pemainnya, yang sebagian besar tidak bermain di liga-liga elite dunia, menunjukkan betapa jauh perkembangan yang telah mereka capai.
“Suasana di ruang ganti terasa sedih. Tentu saja kami sedih. Kami sedih karena harus tersingkir dari kompetisi ini dan karena kami sudah sangat, sangat dekat dengan kemenangan,” kata Bubista dikutip dari The Star.
“Pemain berpelukan dan menangis. Ini adalah bagian dari proses pendewasaan. Hal ini membantu kami berkembang, sekaligus menunjukkan bahwa tim ini memiliki jiwa,” lanjut pelatih berusia 56 tahun tersebut.