Tak Seperti Piala Dunia, Prestianni Law Takkan Dipakai di Liga Champions

Tak Seperti Piala Dunia, Prestianni Law Takkan Dipakai di Liga Champions

Jakarta

UEFA memutuskan takkan menerapkan Prestianni Law di Liga Champions musim depan. Padahal aturan tersebut lahir karena insiden yang terjadi di ajang antarklub elite Eropa itu musim lalu.

Prestianni Law adalah aturan yang baru berlaku di Piala Dunia 2026, membuat seorang pemain berpotensi menerima kartu merah jika berbicara dengan lawannya sambil menutup mulut dalam situasi konfrontatif. Sudah dua orang yang menjadi ‘korban’ selama turnamen.

Miguel Almiron (Paraguay) menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah karena aturan ini dalam laga melawan Turki di fase grup. Kemudian Piero Hincapie (Ekuador) juga menerimanya dalam laga 32 besar melawan Meksiko.

SAN FRANCISCO BAY AREA, UNITED STATES - JUNE 19: Miguel Almiron of Paraguay leaves the pitch after receiving a red card during the  World Cup match between Turkey  v Paraguay at the San Francisco Bay Area Stadium on June 19, 2026 in San Francisco Bay Area United States (Photo by Eric Verhoeven/Soccrates/Getty Images)Almiron jadi pemain pertama yang mendapat kartu merah karena Prestianni Law. Foto: Eric Verhoeven/Soccrates/Getty Images


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun The Athletic dan BBC melaporkan bahwa UEFA telah mengumumkan pada Kamis (2/7) dan menyatakan aturan ini takkan dipakai di ajang yang mereka naungi, yakni Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League di level klub dan Piala Eropa serta UEFA Nations League di level timnas.

Induk sepak bola Eropa itu meminta wasit yang bertugas untuk menilai kasus yang terjadi di lapangan dengan seksama, dan hanya memberikan kartu kuning jika memang ada seorang pemain yang menutup mulut saat berbicara hal-hal yang tidak sportif.

Namun UEFA juga menegaskan bahwa “saran ini jelas tanpa mengurangi penyelidikan atau proses disiplin apa pun yang mungkin terjadi sebagai konsekuensi dari, atau terkait dengan, perilaku tersebut.”

Selain Prestianni Law, UEFA juga takkan memberikan kartu merah kepada pemain yang mogok bermain. Namun mereka akan mengadopsi penerapan Video Assistant Referee untuk mengecek tendangan sudut yang harusnya menjadi goal kick. Dua aturan itu juga baru berlaku di Piala Dunia 2026.

Untuk diketahui, Prestianni Law bermula dari insiden yang terjadi pada laga playoff Liga Champions antara Benfica vs Real Madrid pada Februari lalu. Saat itu, Vinicius Junior menuduh Prestianni mengejeknya dengan sebutan monyet sambil menutup mulutnya.

LISBON, PORTUGAL - FEBRUARY 17: Gianluca Prestianni of Benfica speaks towards Vinicius Junior of Real Madrid during the UEFA Champions League 2025/26 League Knockout Play-off First Leg match between SL Benfica and Real Madrid C.F. at Estadio do SL Benfica on February 17, 2026 in Lisbon, Portugal. (Photo by Angel Martinez/Getty Images)Prestianni (kanan) berbicara dengan mulut tertutup kepada Vinicius. Foto: Getty Images/Angel Martinez

Prestianni membantah hal itu, dan dalam pengakuannya kepada UEFA hanya menyebut Vinicius seorang homo. Ia akhirnya dihukum enam laga, dengan tiga di antaranya ditangguhkan selama dua tahun.

Insiden tersebut menarik perhatian publik sepak bola global. Agar tak terulang lagi, FIFA pun memutuskan harus ada efek jera kepada siapa pun yang tak berani bicara dengan mulut terbuka, terutama dalam situasi konfrontasi. Harapannya, serangan verbal berbau rasis dan seksis bisa hilang di masa depan.

Saksikan Live DetikSore:

(adp/adp)