Hal lain yang ikut dipertimbangkan adalah kecocokan profil Henderson dengan komposisi lini tengah Inggris secara keseluruhan.
Berdasarkan model analisis The Athletic yang memakai data Opta dan SkillCorner, tujuh gelandang pilihan Tuchel memiliki enam tipe peran berbeda. Jude Bellingham, misalnya, digolongkan sebagai gelandang serbabisa, sementara Elliot Anderson lebih berfungsi sebagai pengatur tempo.
Dalam analisis tersebut, Henderson memiliki profil unik sebagai “Channel-ball Progressor”, yakni gelandang yang bertugas mengalirkan permainan dari area dalam menggunakan variasi umpannya, terutama dari sisi kanan lini tengah.
Meski begitu, profil khusus itu saja sebenarnya belum cukup menjadi alasan utama pemilihannya.
Model tersebut juga menunjukkan Inggris justru kekurangan gelandang kreatif murni, tipe yang bisa diisi Palmer atau Foden. Adam Wharton dengan karakter “Anchoring Midfielder” serta kemampuan mengirim umpan progresif cepat juga dinilai bisa memberi warna berbeda.
Memang ada irisan peran antargelandang. Declan Rice, misalnya, tetap mampu bergerak ke area permainan Henderson, walaupun dikategorikan sebagai “Midfield Catalyst”.
Namun, ketika kemampuan teknis Henderson dipadukan dengan kualitas kepemimpinan dan pengaruhnya di dalam tim, Tuchel tampaknya merasa Inggris membutuhkan sosok seperti dirinya di Piala Dunia 2026.
Henderson mungkin bukan pilihan paling eksplosif atau paling menarik dibanding opsi lain di lini tengah Inggris. Akan tetapi, pengalaman dan ketenangannya diyakini bisa menjadi elemen penting, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Sumber: The Athletic