Sementara bagi FIFA, tantangannya adalah memastikan mereka yang memiliki pandangan berbeda dengan AS tetap dapat merasa aman dan bebas menikmati Piala Dunia 2026.
Jakarta (ANTARA) – Turnamen besar seperti Piala Dunia selalu berusaha dieksploitasi sebagai panggung untuk menunjukkan pencapaian dan keagungan negara yang menyelenggarakannya.
Eksploitasi itu terutama untuk menunjukkan betapa berhasilnya pembangunan nasional sebuah negara, sehingga dunia mesti menjadikannya sebagai teladan.
Namun, sejauh ini hanya Italia yang memanfaatkan Piala Dunia untuk tujuan politis ideologis ketika diktator Benito Mussolini menyerahkan trofi selain piala resmi, Jules Rimet, pada Piala Dunia 1934 di Italia.
Mussolini menyerahkan trofi ‘La Coppa Del Duce’ kepada timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia edisi itu, dengan maksud menunjukkan superioritas bangsanya dan fasisme Italia.
Itu seperti Adolf Hitler yang memanfaatkan Olimpiade Berlin 1936 untuk mendewakan ideologi Sosialisme Nasional (Nazi) dan konsep supremasi ras Arya.
Namun, sejak itu organisasi-organisasi olahraga global, termasuk FIFA, berusaha keras menyingkirkan pengaitan tujuan politik dengan ajang olahraga.
FIFA sendiri dari waktu ke waktu berusaha membuat Piala Dunia sebagai turnamen yang apolitik, meskipun sulit diwujudkan dan bahkan kerap membuat FIFA terseret politik hingga dituding berstandar ganda.
Upaya keras FIFA dalam menghadirkan Piala Dunia yang apolitik itu kini mendapatkan ujian ketika Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026.
Selain pertama kali diadakan di tiga negara, Piala Dunia 2026 adalah juga Piala Dunia pertama yang diikuti oleh 48 tim.
Semangat menyelenggarakan Piala Dunia di lebih dari satu negara adalah untuk membangun kesalingpengertian dan iklusivitas.
Namun yang terjadi kemudian malah menjadi tantangan besar untuk hadirnya Piala Dunia yang apolitik.
Kalau pada 1934 adalah Mussolini yang menyeret sepak bola ke arena politik, maka tahun ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlihat sebagai pihak yang berusaha melakukan hal seperti itu.
Trump tampaknya berusaha menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai kesempatan untuk mengalihkan perhatian rakyatnya dari kegagalan-kegagalan politiknya selama ini.
Popularitasnya di dalam negeri AS mencapai titik terendah, khususnya gara-gara perang melawan Iran. Popularitasnya turun sampai hanya 37 persen.
Baca juga: Pengeluaran dan proyeksi profit tuan rumah Piala Dunia 2026
Baca juga: Meksiko perketat pencegahan Ebola jelang Piala Dunia 2026
Ancaman larangan masuk AS
Gejala Trump mempolitisasi Piala Dunia makin terlihat sejak perang dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Iran sendiri adalah peserta Piala Dunia 2026.
Jadi, Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia yang dituanrumahi oleh negara yang sedang memerangi negara lain yang juga peserta Piala Dunia.
Ketegangan di Teluk Persia dan Timur Tengah, sepertinya pelan-pelan mempengaruhi Piala Dunia 2026.
Salah satu dampaknya adalah penolakan AS dalam memberikan wilayahnya untuk basecamp tim nasional Iran. Padahal tiga pertandingan fase grup yang akan dijalani Iran diadakan di AS; masing-masing melawan Selandia Baru, Belgia dan Mesir.
Beruntung masih ada Meksiko. Negara ini bersedia menampung timnas Iran, dan menyediakan Tijuana sebagai basecamp timnas Iran.
Hubungan Trump dengan Meksiko sendiri, dan juga Kanada, tidaklah disebut baik.
Bahkan hubungan dengan Kanada sangat panas, salah satunya karena olok-olok Trump kepada Kanada sebagai “negara bagian ke-51” AS. Kanada juga dicekik oleh perang dagang Trump yang dilancarkan tanpa memilih mana negara yang menjadi sekutu AS, mana yang bukan sekutu.
Keputusan Trump tidak membolehkan timnas Iran berkandang dan berlatih di AS, adalah contoh Piala Dunia 2026 cenderung menjadi turnamen yang dipolitisir.
Iran sendiri menjadi kian terpojok, setelah warganya juga tak bisa bepergian ke AS untuk mendukung timnas mereka. Ini karena Iran adalah satu dari beberapa negara yang terkena larangan masuk ke AS.
Pendukung timnas Senegal, Pantai Gading dan Haiti juga mengalami hal seperti dialami Iran. Mereka akan dipaksa mengandalkan diaspora, yang dalam kasus Iran, diasporanya malah cenderung menentang rezim yang tengah berkuasa di Teheran.
FIFA sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Mereka dipaksa tunduk kepada Trump, padahal Presiden FIFA Gianni Infantino sudah memimpikan “Piala Dunia paling inklusif” tahun ini.
Dunia sendiri dibuat cemas oleh kebijakan keras Trump terhadap pendatang, yang dilambangkan oleh tindakan cenderung brutal dari aparat imigrasi mereka (ICE) kepada warga yang dianggap ilegal.
Trump telah mengubah ICE sebagai unit keamanan lalim nan rasis yang menyebarkan ketakutan dan teror, bertindak tanpa dasar hukum dan acap menggunakan kekuatan yang tidak proporsional.
Banyak pihak yang mengkhawatirkan sepak terjang ICE, dalam kaitan dengan Piala Dunia 2026.
Organisasi-organisasi HAM sampai mendesak AS melindungi pendukung sepak bola global yang hendak datang ke AS, juga wartawan dan ofisial timnas. AS diminta melindungi mereka yang masuk ke negara itu untuk menyaksikan Piala Dunia 2026, dari kesewenang-wenangan, pengawasan, dan aturan masuk yang diskriminatif.
Baca juga: Jadwal lengkap Piala Dunia 2026: Dimulai di Meksiko berakhir di AS
Skrining jejak digital
Organisasi-organisasi HAM ini pantas khawatir karena pemerintahan Trump bukannya merelaksasi aturan agar pendukung sepak bola global bisa leluasa menyaksikan Piala Dunia 2026, tapi malah mengeluarkan aturan-aturan baru yang mendiskriminasi pendatang yang masuk.
Salah satu aturan baru itu adalah kewajiban mengungkapkan aktivitas media sosial dalam lima tahun terakhir. Trump berusaha mendapatkan jejak digital orang-orang yang akan masuk ke AS.
Jika orang asing itu memiliki riwayat yang anti-AS atau berseberangan dengan kebijakan AS, misalnya dalam soal Palestina, maka akan ditolak masuk ke AS.
Kenyataannya, meminjam laporan jurnal Eropa, International Politics and Society pada 2026, sejumlah pelancong ditolak masuk ke AS karena sikap kritis mereka terhadap AS.
Selain dari itu, kebiasaan Trump dalam memanfaatkan momen-momen penting sebagai arena balas dendam terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengannya, adalah juga faktor yang membuat khawatir banyak kalangan.
Orang-orang atau entitas-entitas yang tidak sependapat dengan Trump, bisa terkena getahnya.
Itu termasuk Spanyol yang merupakan satu dari dua favorit terkuat juara Piala Dunia 2026.
Spanyol adalah negara yang vokal menentang perang di Iran, sampai enggan wilayahnya dilewati wahana-wahana perang AS.
Spanyol juga salah satu negara di Eropa yang paling vokal dalam soal Palestina, dan sebaliknya mengkritik Israel, yang adalah anak emas AS.
Bayangkan apa yang terjadi pada Perdana Menteri Pedro Sanchez jika Spanyol masuk final dan bahkan menjuarai Piala Dunia 2026. Trump mungkin tak sudi melihat Sanchez berada di tribun penonton Piala Dunia 2026, padahal final akan digelar di AS.
Apalagi sejumlah pemain Spanyol, antara lain Lamine Yamal, terang-terangan menunjukkan simpati kepada Palestina.
Yamal bukan satu-satunya. Ada banyak pesepak bola lain, dan lebih banyak lagi pendukung sepak bola di berbagai negara, yang memiliki sikap serupa.
Keadaan ini pasti menjadi tantangan serius baik bagi pemerintah AS maupun FIFA.
Bagi pemerintah AS, ini adalah tantangan apakah mereka berani tak menghalangi pihak-pihak yang kritis kepada mereka, untuk masuk ke negara mereka. Sementara bagi FIFA, tantangannya adalah memastikan mereka yang memiliki pandangan berbeda dengan AS tetap dapat merasa aman dan bebas menikmati Piala Dunia 2026.
Baca juga: Profil Stadion Houston, saksi laga Piala Dunia di Kota Luar Angkasa
Baca juga: De la Fuente ingin Spanyol kerahkan segalanya di setiap laga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.