Patung “cockatoo” telah menjadi jimat tersendiri untuk skuad Die Rotten yang menyimpan beragam cerita
Jakarta (ANTARA) – Kehadiran pelatih Vincent Kompany di ruang ganti Bayern Muenchen pada bursa transfer musim panas 2024/2025 menimbulkan beragam spekulasi.
Manajemen Bayern Muenchen yang ditolak oleh beberapa nama pelatih besar memilih opsi mengangkat Kompany. Padahal, Kompany, sebagai pelatih, baru saja terdegradasi dari Liga Inggris bersama klubnya Burnley.
Kehadiran Kompany tentu menuai sorotan, khususnya bagi publik Bavaria yang sedang dalam fase marah karena Bayern Muenchen begitu problematik di musim sebelumnya, 2023/2024.
Kompany datang ke Allianz Arena, Muenchen, dengan mendapatkan setumpuk pekerjaan berat di meja kerjanya.
Pekerjaan tersebut berasal dari ulah Thomas Tuchel, pelatih sebelumnya, yang dianggap sebagai biang keladi parahnya kondisi ruang ganti FC Hollywood setelah tidak menemukan kecocokan dengan pemain pentolan semacam Manuel Neuer dan Joshua Kimmich.
Selain itu Tuchel juga kerap menuai kritikan dari manajemen Bayern Muenchen yang mengharapkan Die Rotten tampil impresif.
Nyatanya, mantan pelatih Chelsea tersebut tidak menghasilkan apa-apa selain gelar juara Liga Jerman 2022/2023 yang diperoleh di pekan terakhir.
Performa tersebut langsung membuat pelatih berkebangsaan Jerman tersebut ditendang oleh manajemen. Ekspektasi tinggi kemudian langsung berada di pundak Kompany yang ditunjuk untuk mengkondisikan ruang ganti Manuel Neuer dan kawan-kawan.
Penggemar Bayern Muenchen tentu saja skeptis mengingat mantan pemain Manchester City tersebut bukanlah pelatih berlabel top.
Terlebih usia Kompany terpaut lebih muda satu tahun dengan kapten Bayern Muenchen Neuer, yang terkenal vokal di ruang ganti. Kompany tentu harus bisa mengambil hati pemain pentolan semacam Neuer dan Kimmich demi bisa membawa Bayern Muenchen mengejar gelar juara di setiap kompetisi.
Perlu, setidaknya, proses sekitar hampir dua musim bagi Kompany untuk bisa menunjukkan proses pendekatannya menangani beragam soal FC Hollywood selepas pemecatan Tuchel.
Kehadiran patung burung kakatua, “cockataoo” di antara skuad Bayern Muenchen menjadi simbol bagaimana Kompany, yang merupakan pelatih kulit hitam pertama Bayern Muenchen, bisa membaur dan memimpin ruang ganti.
Pendekatan Kompany
Muenchen merupakan kota yang plural dengan berbagai macam jenis suku dari seluruh dunia berada di kota seluas 310,43 km2 tersebut.
Bayern Muenchen yang telah menjadi identitas dan representasi penduduk Muenchen semenjak lama juga dipenuhi oleh skuad dengan corak dan suku yang beragam.
Namun ada satu kesamaan dan tradisi yang dipertahankan oleh kota Muenchen dan melekat di klubnya Bayern Muenchen yakni tradisi minum-minum di bar.
Kompany yang tidak pernah berkarir di Muenchen selama periode sebagai pemain aktif tahu akan hal tersebut. Bahwa bar juga dapat mempersatukan komunikasi di dalam skuadnya.
Setelah memastikan gelar juara Liga Jerman 2024/2025, skuad Bayern Muenchen yang berlibur akhir pekan memutuskan untuk merayakan gelar dengan mendatangi sebuah bar Kaefer Tavern yang terletak di tengah kota Muenchen.
Joshua Kimmich dan kawan-kawan kemudian menghabiskan waktu bersama di ruang privat menonton pertandingan bola dan melakukan pesta perayaan gelar juara.
Kemudian setelah pesta, tanpa sengaja skuad Bayern Muenchen membawa pergi patung burung kakatua “cockatoo” dari bar Kaeder Tavern.
Bukannya dikembalikan ke sang pemilik Kaefer Tavern, patung tersebut justru menjadi ikon dan simbol yang menyatukan skuad.
Kaefer Tavern juga mengikhlaskan patung kakatua, yang dibelinya dari toko barang bekas di Paris satu dekade lalu, untuk skuad Die Rotten.
“Cockatoo” kemudian menjadi ikon yang muncul di setiap perayaan gelar bagi Bayern Muenchen.
“Saya tidak bisa mengatakan siapa yang membawa patung itu. Saya berkata jujur bahwa ceritanya akan keluar maka akan membawa persepsi yang berbeda,” ujar Kompany yang menjadikan patung tersebut sebagai maskot ketika perayaan resmi gelar Liga Jerman musim 2024/2025.
Patung burung kakatua tersebut dihadirkan kembali kala Die Rotten merayakan gelar Liga Jerman musim 2025/2026 di Allianz Arena, Muenchen (20/4).
Leon Goretzka menggendong patung berbahan resin tersebut ke hadapan para penggemar.
Bahkan staf Bayern Muenchen menyablon kaos bergambar sang patung kakatua dengan mengapit trofi meisterschale atau trofi Liga Jerman.
Patung “cockatoo” telah menjadi jimat tersendiri untuk skuad Die Rotten yang menyimpan beragam cerita.
Bahkan patung tersebut juga dibawa oleh Harry Kane dan kawan-kawan menemani mereka kala Bayern Muenchen bersaing di kompetisi Piala Dunia Antarklub 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat pada musim panas lalu.
Selain itu patung tersebut juga tampil dalam perayaan klub ketika mereka mengangkat trofi Beckenbauer Cup 2026.
Simbol keharmonisan
Sekarang patung “cockatoo” adalah simboli betapa harmonisnya ruang ganti Bayern Muenchen di tangan dingin Vincent Kompany.
Di atas kertas, pelatih asal Belgia tersebut mengantarkan Bayern Muenchen juara Liga Jerman dengan menorehkan gol terproduktif sepanjang masa Liga Jerman dengan catatan 109 gol. Die Rotten kini memimpin klasemen dengan total 79 poin.
Bayern Muenchen juga masih berpeluang untuk berpesta membawa patung “cockatoo” lagi jika bisa mengunci gelar Piala Liga Jerman dan Liga Champions.
Harry Kane dan kawan-kawan akan bersua Paris Saint-Germain (PSG) dalam babak semifinal Liga Champions yang berlangsung pada 29 April dan 7 Mei.
Sedangkan di Piala Liga Jerman, Die Rotten akan menjamu Bayer Leverkusen pada babak semifinal pertandingan yang berlangsung pada Kamis pukul 01.30 WIB.
“Kompany selalu membawa patung itu bersama tim saat dibutuhkan dan selalu mengeluarkannya saat kami memenangkan sesuatu. Jadi semoga kita bisa melihat burung kakatua itu beberapa kali lagi musim ini,” ujar Kimmich seperti disiarkan televisi lokal Bavaria, Rabu.
Kapten tim nasional Jerman tersebut kini penuh ambisi untuk mengantarkan Die Rotten meraih treble untuk kedua kalinya dalam karirnya berseragam Bayern Muenchen setelah pertama kali treble pada musim 2019/2020.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.