Jika Yamal adalah keajaiban kecil sepak bola maka itulah yang dibutuhkan Barcelona saat menjamu Atletico Madrid pada leg kedua semifinal Copa del Rey di Camp Nou, setelah tertinggal agregat empat gol.
Memang, sejarah pernah mencatat kebangkitan sensasional Barcelona saat membalikkan defisit 0-4 menjadi kemenangan 6-1 atas Paris Saint-Germain di Liga Champions 2017, malam bersejarah yang dipimpin dua idolanya, Messi dan Neymar. Namun, momen seperti itu jarang terjadi.
Terakhir kali Barcelona menjamu Atleti di Copa del Rey, mereka memang mencetak empat gol, tetapi juga kebobolan empat.
Rekor Yamal melawan Atleti tergolong baik, meski belum spektakuler: tujuh laga, lima menang, satu imbang, satu kalah, dengan satu gol.
Realitanya jelas. Untuk membalikkan keadaan, Barcelona membutuhkan performa tim yang luar biasa kuat dan disiplin. Namun, mereka juga memerlukan sentuhan keajaiban. Pedri mungkin punya sihir di pikiran dan kakinya, tetapi sumber utama tetap Yamal.
Masalahnya, klub menuntut terlalu banyak dari pemain 18 tahun itu. Di musim yang diwarnai cedera dan penjagaan berlapis dari lawan, ia tetap membukukan 32 gol atau assist dalam 34 pertandingan di semua kompetisi, angka yang sungguh mencengangkan.
“Dalam beberapa bulan terakhir saya tidak terlalu menikmati permainan saya, cedera pangkal paha menjadi bagian dari itu, dan saya rasa itu cukup terlihat. Tetapi, sekitar sepekan terakhir ada sesuatu yang terasa klik, segalanya terasa lebih baik dan saya kembali punya keinginan untuk tersenyum saat bermain, sesuatu yang sempat hilang dari saya untuk sementara waktu,” ujar Yamal usai laga kontra Villarreal.