Dalam konferensi pers pra-pertandingan, Michael Carrick menepis anggapan bahwa ia akan sekadar mengulang pendekatan yang sukses meredam Manchester City sepekan sebelumnya untuk mengalahkan Arsenal.
“Setiap pertandingan berbeda. Tidak pernah sama, bahkan setelah 45 menit pertama yang bagus. Saya tidak suka mengatakan ‘lakukan hal yang sama lagi’ karena memang tak pernah sama,” ujarnya. “Kami harus membangun dari situ, tidak akan sekadar salin-tempel. Saya pikir kami harus menambahkan elemen baru, harus siap, dan berada dalam performa terbaik. Jika kami dalam kondisi terbaik, kami merasa punya peluang besar.”
Dan benar saja, yang tampil bukanlah Man United dengan intensitas brutal seperti di derbi Manchester, melainkan versi yang lebih cerdas dan terukur. Selama setengah jam pertama, Man United tertekan habis-habisan tanpa jalan keluar. Baru setelah gol bunuh diri Lisandro Martinez mereka ‘terbangun’. Sejak saat itu, Man United justru mengontrol permainan.
Jika era Ruben Amorim terasa seperti kunjungan ke dokter gigi—menyakitkan dan penuh kecemasan—maka Man United di bawah Carrick tampak menikmati penderitaan itu. Mereka bertahan dalam, disiplin, namun tetap mampu merangsek ke depan dengan kecepatan yang selama ini diidamkan para penggemar.
Pencetak gol kemenangan MU, Matheus Cunha, berbicara soal Carrick: “Dia tahu rasanya, dia lama bermain di sini. Dia tahu Manchester, tahu United, tahu apa yang fans inginkan. Dia selalu menekankan bahwa semua orang benci kami, dan itu membuat kami semakin menyatu.”
Harry Maguire, yang dianugerahi man of the match, menambahkan: “Michael luar biasa. Dia datang membawa energi segar, tim benar-benar solid. Dua laga sulit, banyak yang mengira kami takkan dapat poin, tapi memenangkan keduanya itu luar biasa.”
Efek ‘manajer baru’ jelas berpihak pada Carrick, dan pasti akan ada perbandingan dengan era interim Ole Gunnar Solskjaer pada 2019 sebelum ia akhirnya diangkat jadi manajer permanen. Apa pun akhirnya, Carrick telah memimpin tim memetik dua kemenangan monumental dari dua laga, termasuk mengalahkan Arsenal asuhan Arteta dua kali dengan skor 3-2 dalam rentang empat tahun. Itu bukan hal sepele.