Jakarta –
Manajer Arsenal, Mikel Arteta, menegaskan bahwa skema sepak pojok merupakan evolusi permainan. Dia juga menegaskan kalau setiap tim pasti kesal kalau kebobolan.
Arsenal menjadi tim yang dicap merusak keindahan sepakbola karena banyak mencetak gol lewat sepak pojok. Meriam London sepanjang Premier League musim ini sudah mengemas 17 gol dari situasi sepak pojok dan menjadi yang terbanyak di antara tim lain.
Di sisi lain, Arsenal juga menjadi tim terbanyak kedua yang mengemas gol lewat open play atau permainan terbuka menurut catatan Whoscored. Ada 29 gol, cuma kalah dari Manchester City yang mengemas 36 gol dari permainan terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arteta sudah pernah mengutarakan bahwa selalu menyiapkan banyak skenario di setiap pertandingan. Memanfaatkan sepak pojok adalah salah satu cara untuk mengatasi tim yang bermain dengan pertahanan rendah.
Arsenal sebelum mengemas dua gol lewat sepak pojok saat mengalahkan Chelsea, sudah membukukan 16 gol secara beruntun dari permainan terbuka di semua ajang. Gawang Arsenal saat dibobol Chelsea justru dari skema sepak pojok.
“Saya tidak tahu. Maksud saya, sebagai lawan, Anda pasti kesal ketika kebobolan. Saya sangat kesal dengan cara kami kebobolan melawan Chelsea, dan Chelsea, lihat kualitas yang mereka miliki, jumlah gol dari bola mati yang mereka cetak, Manchester United melakukannya dengan sangat baik,” kata Arteta yang dikutip dari situs resmi Arsenal.
“Sama halnya, ketika saya di Manchester City, saya banyak melatih mereka. Jadi, itu adalah sesuatu, dan ada fase dan momen ketika sebuah tim memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal tertentu, dan permainan terus berkembang dan menjadi semakin sulit.”
Arteta menjelaskan bagaimana permainan sepakbola berevolusi. Mulai dari kemunculan inverted full-back, dominasi penguasaan bola, bahkan sampai ada yang sekadar main bertahan dan mengandalkan serangan balik untuk menang.
“Dulu, dalam rencana permainan ada inverted full-back dan memasukkan pemain tambahan di lini tengah, atau false-nine, lawan akan kalah, keunggulan jumlah pemain, 4 lawan 3 di dalam, 2 lawan 1 di dalam, berlama-lama menguasai bola, sangat dominan, 70-80% penguasaan bola, sementara itu lawan, dua serangan balik, bola mati, permainan selesai.”
“Sekarang, tim-tim beradaptasi. Tim-tim tahu persis apa yang harus mereka lakukan setelah setiap rangkaian permainan, baik itu lemparan ke dalam, gaya permainan, situasi permainan terbuka, atau permainan langsung, dan semuanya hampir man-to-man. Jadi, ini akan menjadi permainan yang berbeda kecuali kita mengubah aturan, karena evolusi permainan memang seperti itu,” Arteta menegaskan.
(ran/adp)