Gelombang biru pelari akan kembali memadati jalanan Indonesia. POCARI SWEAT secara resmi mengumumkan kembalinya perhelatan lari hybrid terbesar di tanah air, POCARI SWEAT Run yang ke-13. Tahun ini, acara tersebut membawa konsep istimewa dengan menyatukan dua destinasi ikonik, Lombok (Nusa Tenggara Barat) dan Bandung (Jawa Barat), dalam satu rangkaian semangat olahraga.
Langkah ini diambil bukan hanya sekadar ajang kompetisi lari, melainkan sebagai upaya strategis untuk mendorong pertumbuhan Sport Tourism nasional. Inisiatif ini sejalan dengan program besar yang dicanangkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, yang menargetkan sinergi antara gaya hidup sehat dan promosi destinasi wisata unggulan.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menyambut baik konsistensi acara ini. Ia menyoroti fakta bahwa indeks masyarakat Indonesia dalam berolahraga saat ini masih berada di angka 15%. “Kegiatan seperti POCARI SWEAT Run, kami harapkan dapat mendorong masyarakat untuk hidup lebih sehat dengan berolahraga. Apalagi event ini dapat menggerakkan pelari dari Aceh hingga Papua,” ungkapnya.
Lebih jauh, pemerintah melihat potensi ekonomi yang besar dari perhelatan ini. Erick Thohir menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif swasta yang mampu memutar roda ekonomi daerah. Agenda wisata olahraga diharapkan menjadi katalisator yang tidak hanya menyehatkan bangsa, tetapi juga memberikan dampak positif nyata bagi sektor pariwisata lokal.
Rangkaian kegiatan tahun ini akan dibuka dengan sensasi berlari di lintasan balap kelas dunia. POCARI SWEAT Run Lombok 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11-12 Juli di Pertamina Mandalika International Circuit. Para pelari akan dimanjakan dengan empat pilihan kategori jarak, mulai dari satu putaran sirkuit (4.3K), 10K, Half-Marathon, hingga Marathon penuh, menawarkan pengalaman lari yang unik dan menantang.
Setelah Lombok, rangkaian acara akan mencapai puncaknya di POCARI SWEAT Run Bandung 2026 pada 19-20 September mendatang, yang difokuskan pada kategori 10K dan Half-Marathon sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Bandung.
Secara historis, ajang ini telah menunjukkan pertumbuhan yang fenomenal. Dari hanya 5.000 pelari pada tahun 2014, jumlah partisipan melonjak drastis hingga mencapai total 55.435 pelari pada tahun 2025. Konsistensi selama 12 tahun terakhir ini membuktikan bahwa lari telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, selaras dengan filosofi perusahaan Otsuka untuk mengajak lebih banyak orang hidup sehat.
Dari sisi pariwisata, Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa,menilai kolaborasi ini adalah contoh sempurna pengembangan pariwisata berkelanjutan. “Event ini menjadi magnet bagi pelari domestik dan internasional sekaligus mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat lokal,” tutur Ni Luh Puspa, menekankan pentingnya peran sektor swasta dalam mengangkat destinasi wisata unggulan seperti Lombok dan Bandung.
Semangat yang sama juga disuarakan oleh Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Raffi menyoroti dominasi anak muda dalam event ini yang membawa energi positif. Ia mengajak para pelari untuk tidak hanya berolahraga, tetapi juga menjadi duta wisata digital. “Saya ingin mengajak pelari mempromosikan kebudayaan dan keindahan tiap sudut kota melalui media sosial. Ini adalah cara keren buat anak muda mencintai negerinya,” tegas Raffi.
Dengan perpaduan antara tantangan fisik, keindahan alam Mandalika, dan kesejukan kota Bandung, POCARI SWEAT Run 2026 siap menjadi agenda olahraga yang paling dinanti tahun ini. Dua kota, satu Indonesia yang membiru, siap menyambut ribuan pelari untuk kembali mencetak sejarah dan merayakan kesehatan bersama.