Jakarta (ANTARA) – Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengkritik format Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 tim serta pembagian jumlah pertandingan yang dinilai terlalu menguntungkan Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan Radio Canada yang dikutip The Athletic, Blatter menilai pembagian laga di antara tiga tuan rumah bersama, AS, Kanada, dan Meksiko, tidak mencerminkan semangat pemerataan dalam pengembangan sepak bola.
Piala Dunia 2026 akan menampilkan total 104 pertandingan, dengan Amerika Serikat menjadi tuan rumah 78 laga, termasuk seluruh pertandingan mulai perempat final hingga final.
“Ini tidak benar. Jika tiga negara menjadi tuan rumah bersama, seharusnya mereka mendapatkan porsi yang kurang lebih sama,” kata Blatter.
Selain itu, Blatter juga mengkritik keputusan memperluas jumlah peserta menjadi 48 tim serta pelaksanaan turnamen di tiga negara yang berbeda.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi merugikan pengalaman kompetisi dan tidak memberikan manfaat merata bagi seluruh tuan rumah.
“Dalam Piala Dunia ini, pihak yang paling diuntungkan adalah Amerika Serikat, bukan penonton,” ujarnya.
Blatter juga menyinggung kebijakan pembatasan visa oleh pemerintah Amerika Serikat yang dinilai dapat menghambat partisipasi dan mobilitas selama turnamen.
Sejumlah negara yang telah memastikan lolos ke putaran final, seperti Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti, termasuk dalam daftar negara yang terdampak kebijakan pembatasan perjalanan.
Dalam kesempatan yang sama, Blatter juga mengkritik kedekatan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden FIFA Gianni Infantino yang dinilai berpotensi membawa sepak bola ke ranah politik.
“Membawa sepak bola ke dalam politik adalah sesuatu yang sulit dipahami. Sepak bola seharusnya menjadi kegiatan sosial, budaya, dan untuk perdamaian,” kata dia.
Sementara itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) sebelumnya menyatakan Infantino tidak melanggar prinsip netralitas politik terkait aktivitasnya.
Baca juga: Presiden FIFA dan UEFA dituduh membantu kejahatan perang
Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.