Setelah Daisuke Sato meninggalkan klub, Persib kemudian memasuki proses penyelesaian sengketa terkait kompensasi. Manajemen memilih membawa perkara tersebut ke Court of Arbitration for Sport (CAS) guna mendapatkan kejelasan mengenai nilai yang harus dibayarkan.
Adhitia menjelaskan bahwa aturan FIFA mengatur perhitungan kompensasi berdasarkan kondisi pemain setelah kontraknya diputus. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah penghasilan pemain di klub barunya.
“Peraturan FIFA itu ketika seorang pemain keluar dari sebuah klub, di-terminate dengan sisa kontrak dua tahun, kemudian setelah di-terminate dia bekerja di klub lain, ketika gaji di klub lainnya lebih besar dibanding gaji dia di Persib, itu sudah selesai kasusnya,” ujar Adhitia.
“Tapi kalau gajinya lebih kecil, nah selisih gaji itu yang harus dicek berapa dispute-nya. Makanya prosesnya membutuhkan waktu cukup panjang selama beberapa bulan,” lanjutnya.
Menurut Adhitia, CAS melakukan pemeriksaan secara rinci terhadap berbagai komponen yang berkaitan dengan kontrak pemain. Tidak hanya gaji pokok, tetapi juga tunjangan, per diem, hingga berbagai komponen lain yang memengaruhi perhitungan kompensasi.
“Akhirnya waktu itu berjalan berbulan-bulan. CAS mengecek dulu apakah benar gajinya segini, apakah ada per diem, ada pesangon dan lain-lain. Pokoknya dicek semuanya.”
“Akhirnya baru keluar sekitar dua bulan lalu. Ternyata kita mendapatkan pengurangan. Seingat saya sebelumnya sekitar Rp3,03 miliar, setelah ke CAS turun menjadi sekitar Rp2,7 miliar,” jelasnya.